REPORTASEJABAR.COM -Di tengah panggung sejarah yang terus berputar, dunia saat ini tengah dihadapkan pada dinamika geopolitik yang kian kompleks. Perbatasan tidak lagi sekadar garis di peta, melainkan juga benteng ideologi dan pertarungan kepentingan yang kerap menciptakan ketidakpastian. Gelombang perubahan ini pun sampai ke tanah air, menyentuh sendi-sendi kehidupan berbangsa kita. Indonesia, negeri yang kaya akan keragaman, kini tengah diuji oleh arus informasi yang tak lagi bersih.
Kita menyaksikan bagaimana kebenaran seringkali dikaburkan oleh kabut hoaks, bagaimana hubungan antarmanusia diracuni oleh fitnah, dan bagaimana keberagaman yang seharusnya menjadi kekuatan justru dijadikan alat untuk ujaran kebencian dan adu domba. Upaya untuk memecah belah persatuan seolah menjadi agenda yang terus digulirkan, menciptakan retak yang jika dibiarkan akan mengancam keutuhan bangsa.
Di momen yang sarat tantangan inilah, kita memperingati Hari Pustakawan ke-37.
Sejatinya, seorang pustakawan bukan hanya penjaga rak buku atau pengelola arsip. Lebih dari itu, pustakawan adalah penjaga gerbang kebenaran dan pelita pengetahuan. Di era di mana informasi bisa dengan mudah dimanipulasi, peran pustakawan dan nilai-nilai yang mereka junjung menjadi sangat vital. Mereka mengajarkan kita untuk memilah, membedah, dan memahami informasi dengan nalar yang sehat, bukan sekadar menerima mentah-mentah apa yang tersaji di layar.
Suara dari Rakyat Biasa: Menjaga Nalar dan Persatuan
Sebagai seorang rakyat biasa, saya melihat bahwa tantangan terbesar kita saat ini bukanlah dari luar, melainkan bagaimana kita menjaga hati dan pikiran agar tidak terpecah belah dari dalam.
Kita harus menjadi pembelajar yang cerdas. Jangan mudah terprovokasi oleh narasi-narasi yang bertujuan merusak. Mari kita kembalikan fungsi otak untuk berpikir kritis dan hati untuk tetap berakal budi. Di tengah badai informasi yang menyesatkan, marilah kita menjadi orang-orang yang bijak. Bijak dalam menyaring berita, bijak dalam bersuara, dan bijak dalam bertindak.
Ingatlah, Indonesia ini milik kita bersama. Perbedaan adalah anugerah, bukan alasan untuk bermusuhan. Persatuan dan kesatuan bukan sekadar jargon dalam lagu, melainkan harga mati yang harus kita rawat setiap hari.
Mari kita teladani semangat para pustakawan yang setia menyimpan dan menyebarkan ilmu demi kemaslahatan. Mari kita lawan kebodohan dan kebencian dengan literasi dan toleransi. Mari kita satukan langkah, jaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan terus melangkah maju demi kemajuan bangsa yang kita cintai ini. Karena hanya dengan persatuan, kita akan kokoh bagai gunung, tak tergoyahkan oleh badai apapun.
Oleh : Haryanto “Rakyat Biasa”
Red. Ts

























