Bandung. Reportasejabar.com
Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BPVP) Bandung Barat Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) menggelar pelatihan budidaya kopi untuk meningkatkan keterampilan teknis petani dan pelaku usaha pertanian.Rabu, 01/07/2026.Bertempat Di Balai Pelatihan Kerja Bansung Barat.
Kegiatan ini menghadirkan pendekatan ilmiah terstruktur, terutama dalam aspek pengelolaan lahan.
Pelatihan dipandu oleh instruktur ahli I Nyoman Didi Harizena, SP., M.Si.
Dalam pelaksanaannya, ia didukung oleh dua mahasiswi Program Studi Agroteknologi Universitas Padjadjaran yang sedang menjalani Praktik Kerja Lapangan (PKL): Afiyah Adeliano asal Kota Depok dan Damar Jalito Thahirah asal Bukittinggi, Sumatera Barat. Konsentrasi tugas mereka secara khusus difokuskan pada ilmu tanah dengan penekanan utama pada cabang fisika tanah.
Materi yang disampaikan meliputi sifat fisik tanah: tekstur, struktur, porositas, daya serap air, sirkulasi udara, dan kedalaman lapisan tanah — faktor yang sangat menentukan kesesuaian lahan, pertumbuhan akar, serta produktivitas dan kualitas biji kopi.
Salah satu peserta sekaligus memberikan apresiasi adalah Oky Nugraha Sosrowiryo, Sekretaris Jenderal Laskar Prabowo 08 DPC Garut.
“Pelatihan ini bukan sekadar menambah wawasan, tapi membuka cara pandang baru kami dalam mengelola kebun kopi. Selama ini kami bekerja berdasarkan kebiasaan, baru sekarang paham bahwa kualitas panen dimulai dari memahami ‘perilaku’ tanah itu sendiri. Penjelasan fisika tanah yang disampaikan kedua mahasiswi UNPAD sangat jelas, lugas, dan langsung bisa dipraktikkan. Ilmu ini jadi bekal kuat agar kopi kami tidak hanya tumbuh, tapi juga menghasilkan kualitas terbaik dan berdaya saing tinggi. Terima kasih atas dedikasi dan ilmunya yang sangat bermanfaat,” ujarnya.
I Nyoman Didi Harizena menyampaikan bahwa kolaborasi ini menjembatani teori dan praktik.
“Fisika tanah menjadi dasar yang sering terlewatkan dalam budidaya. Kehadiran Afiyah dan Damar sangat membantu menjelaskan konsep yang cukup teknis agar mudah dipahami peserta. Mereka menjelaskan bagaimana mengamati dan mengukur sifat fisik tanah secara sederhana namun akurat, sehingga petani bisa menilai sendiri kondisi lahannya,” jelasnya.
Afiyah Adeliano menambahkan ruang lingkup tugasnya selama PKL.
“Konsentrasi kami di sini adalah ilmu tanah dengan fokus utama pada fisika tanah. Kami memaparkan cara mengenali tekstur tanah, mengamati struktur tanah, serta mengetahui kapasitas menampung air dan drainase. Semua ini menjadi syarat agar akar kopi bisa berkembang sempurna dan menyerap unsur hara dengan optimal,” katanya.
Damar Jalito Thahirah melengkapi pernyataan tersebut.
“Tanah bukan sekadar tempat menanam. Melalui pemahaman fisika tanah, petani bisa menentukan teknik pengolahan tanah yang tepat, kapan waktu penyiraman yang cukup, dan menghindari kerusakan struktur tanah akibat pengelolaan yang salah. Harapan kami, ilmu ini membantu meningkatkan hasil panen dan kualitas kopi secara berkelanjutan,” ujarnya.
Pelatihan ini diharapkan melahirkan petani yang tidak hanya terampil secara teknis, tetapi juga memahami dasar ilmiah pengelolaan lahan agar usaha budidaya kopi menjadi lebih produktif dan berkelanjutan.
Red.Deudeu

























