REPORTASEJABAR.COM Bupati Bandung Dadang Supriatna (KDS) mengaku selalu memiliki ikatan emosional dengan Kampung Mahmud, Desa Mekarrahayu, Kecamatan Margaasih. Terlebih saat dirinya mencalonkan diri sebagai Bupati Bandung dan sudah beberapa kali mengunjungi kampung legendaris itu.
Karena itu, kunjungannya dalam program Jum’at Keliling (Jumling) di Masjid Agung Mahmud, Jumat, 19 Juni 2026, menjadi momen untuk bersilaturahmi sekaligus memastikan berbagai program pembangunan dan keumatan tetap berjalan.
“Saya baru kembali lagi ke sini dan sudah kangen ke Kampung Mahmud. Selain memiliki nilai sejarah dan keagamaan yang kuat, kampung ini juga menjadi salah satu ikon religius Kabupaten Bandung,” kata KDS.
Dalam kunjungan tersebut, KDS juga meninjau sejumlah ruas jalan di sekitar Desa Mekarrahayu yang telah selesai dibangun melalui program pembangunan infrastruktur Pemerintah Kabupaten Bandung.
Menurutnya, pembangunan jalan menjadi bagian dari upaya meningkatkan aksesibilitas masyarakat sekaligus mendukung aktivitas sosial, ekonomi, dan keagamaan warga di kawasan tersebut.
Selain pembangunan infrastruktur, KDS menegaskan komitmennya untuk tetap melanjutkan program insentif bagi guru ngaji meskipun pemerintah daerah menghadapi tantangan fiskal akibat berkurangnya transfer ke daerah dari pemerintah pusat.
“Insentif guru ngaji tetap berlanjut. Ini komitmen kami karena peran guru ngaji sangat besar dalam membangun karakter generasi muda dan menjaga nilai-nilai keagamaan di tengah masyarakat,” ujarnya.
Program insentif guru ngaji merupakan salah satu program unggulan Pemerintah Kabupaten Bandung yang selama ini diberikan kepada ribuan guru ngaji, marbot, dan tokoh keagamaan sebagai bentuk penghargaan atas kontribusi mereka dalam pendidikan keagamaan masyarakat.
Pada kesempatan tersebut, KDS juga mengingatkan pentingnya menjaga dan melestarikan nilai-nilai sejarah Kampung Mahmud yang dikenal sebagai salah satu kawasan religius tertua di Kabupaten Bandung.
Kampung Mahmud didirikan oleh seorang ulama penyebar Islam, Eyang Dalem Abdul Manaf, yang diyakini masih memiliki garis keturunan dengan para penyebar Islam di tanah Sunda. Kawasan ini dikenal sebagai kampung adat Islam yang hingga kini masih mempertahankan sejumlah tradisi dan kearifan lokal.
Masjid Agung Mahmud yang menjadi pusat kegiatan keagamaan masyarakat juga memiliki keunikan tersendiri. Dalam sejarahnya, bangunan masjid tersebut dibangun dengan mempertahankan sejumlah aturan adat yang diwariskan para pendahulu, termasuk penggunaan material bangunan yang menyesuaikan dengan tradisi setempat seperti banyak menggunakan material kayu dan bambu.
Menurut KDS, keberadaan Kampung Mahmud bukan hanya menjadi warisan sejarah, tetapi juga pusat pendidikan moral dan spiritual yang harus terus dijaga oleh generasi muda.
“Kita harus menjaga warisan para ulama dan waliyullah yang telah membangun peradaban Islam di kawasan ini. Kampung Mahmud memiliki nilai sejarah yang sangat besar bagi Kabupaten Bandung,” katanya.
Kehadiran KDS dalam kegiatan Jumling tersebut mendapat apresiasi dari masyarakat. Roby Prasetya (29), warga Desa Mekarrahayu, mengaku bersyukur atas perhatian yang diberikan Pemerintah Kabupaten Bandung terhadap pembangunan di wilayahnya.
“Hatur nuhun Pak Bupati tos sumping ka lembur sim kuring. Jalan sudah bagus meskipun baru sebagian. Mudah-mudahan sisanya juga bisa segera dicor. Semoga Pak Bupati sehat selalu,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Muhamad Zakaria (16), warga Kampung Mahmud. Ia berharap kegiatan seperti Jumling dapat terus dilakukan sehingga masyarakat dapat berinteraksi langsung dengan pemimpinnya.
“Untuk Pak Bupati, sering-sering ke kampung saya. Terima kasih sudah memberikan sembako untuk saya. Semoga sehat dan panjang umur,” katanya.
Melalui program Jumling, Pemerintah Kabupaten Bandung terus memperkuat komunikasi dengan masyarakat sekaligus memastikan pembangunan fisik dan pembangunan keagamaan berjalan beriringan dalam mewujudkan Kabupaten Bandung yang lebih Bedas.(Tri)






