Reportasejabar.com – Jakarta| Di tengah tantangan penurunan kesopanan digital dan dinamika keberagaman di Indonesia, keberadaan wadah perekat persaudaraan lintas iman menjadi semakin krusial. Menjawab tantangan tersebut, Wadah Komunikasi dan Pelayanan Umat Bersama (WKPUB) menyelenggarakan kegiatan Sarasehan dan Pembekalan Pengurus dan Anggota WKPUB pada Sabtu, 24 Oktober 2026, bertempat di Gereja Kristen Jawa (GKJ) Jakarta Rawamangun, Jalan Balai Pustaka Timur No. 1, Rawamangun, Jakarta Timur.
Mengusung tema “Membentuk Pengurus dan Anggota WKPUB yang Bersinergi, Komunikatif, Solid, dan Memahami Nilai-Nilai Sejarah Organisasi,” agenda ini dihadiri oleh sekitar 75 peserta yang terdiri atas jajaran pengurus, utusan komunitas, serta panitia pelaksana.
Membangun Etika dan Karakter Unggul Berorganisasi
Rangkaian acara diawali dengan registrasi peserta, pembukaan oleh MC/Moderator Debbie Daysrie Tuwo, menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, doa pembuka oleh Alice, laporan ketua panitia Gus Hafas Alawi dari Pesantren Inggris (Ponpes Assalam), serta sambutan pengurus oleh S. Budhi Hutomo, ST.
Sesi materi pertama menghadirkan Drs. Saut Sitompul, M.Si., CEM (Ethos Master dan Motivator Nasional yang akrab disapa “Mr. Spirit”). Dalam pemaparannya, Saut menekankan pentingnya membangun karakter moral-spiritual, etika komunikasi, dan budaya dialog yang HUMANIS (Menghargai, Mengungkapkan, Mengerti, Mengapresiasi, Menyatakan dengan santun, Berinisiatif, dan Tersenyum).
Saut juga mengingatkan bahaya confirmation bias dan ujaran kebencian di media sosial, seraya mengajak seluruh jajaran WKPUB untuk bermental Chooser – sikap yang aktif menawarkan solusi dan mengambil bagian dalam penyelesaian masalah bangsa. Sesi diskusi interaktif materi pertama dipimpin oleh moderator Dr. Dharma Leksana, M.Th., M.Si., yang dilanjutkan dengan penyerahan plakat penghargaan.

Mengingat Akar Sejarah: Seperempat Abad Melayani Tanpa Sekat
Pada sesi kedua, peserta diajak menyelami rekam jejak dan akar historis lahirnya organisasi melalui materi Sejarah dan Terbentuknya WKPUB yang disampaikan oleh Ketua Umum WKPUB, Pdt. (Em.) Hosea Sudarna, S.Th., M.Si..
Dalam napak tilas sejarahnya, WKPUB berakar dari respons terhadap krisis sosial dan ancaman disintegrasi bangsa pada periode 1998–1999. Berangkat dari perjumpaan dan silaturahmi antar-pemimpin umat beragama, WKPUB tumbuh menjadi wadah pelayanan konkrit. Berbagai aksi nyata telah dilahirkan, mulai dari bantuan kemanusiaan pengungsi konflik Aceh dan Ambon pada tahun 2000, pengobatan gratis, hingga program unggulan Anak Indonesia Sehat (AISA) untuk mengentaskan stunting dan gizi buruk.
Di era digital dan menyongsong Jakarta Kota Global, WKPUB terus memantapkan legalitas struktur perkumpulan berbasis kebangsaan serta memperkuat jangkauan pelayanan inklusif, termasuk pelatihan jurnalistik dan media digital.

Komitmen Bersama untuk Masyarakat dan Bangsa
Sesi diskusi kedua yang kembali dipandu oleh Dr. Dharma Leksana berlangsung hangat dan solutif. Rangkaian kegiatan ditutup dengan penyerahan plakat oleh S. Budhi Hutomo, ST, closing statement, menyanyikan lagu Bagimu Negeri serta doa penutup dan ramah tamah makan siang bersama.
Melalui pembekalan ini, WKPUB menegaskan komitmennya untuk terus hadir sebagai saluran berkat dan perekat persaudaraan sejati di tengah masyarakat. Dengan pengurus yang makin solid, komunikatif, dan memegang teguh etika organisasi, WKPUB siap menjalankan program kerja lintas bidang—meliputi kesehatan, sosial kemanusiaan, pendidikan kebangsaan, hingga pemberdayaan ekonomi umat. (Dh.L./Red.***)
























